“Sebuah negara di mana banyak orang cerdas lebih memimpikan kepergian mereka daripada memberikan kontribusi harus mengajukan pertanyaan: Apa yang gagal kita sediakan?”
Ada suatu masa ketika rata-rata pemuda Nigeria bermimpi menjadi dokter di Lagos, insinyur di Port Harcourt, dosen di Zaria, atau wirausaha di Abuja. Saat ini, mimpi-mimpi itu telah berubah. Impiannya kini bukan lagi tentang bertahan hidup dan membangun masa depan di Nigeria, namun tentang melarikan diri darinya. Di kampus, tempat kerja, dan pertemuan sosial, satu kata mendominasi percakapan: ‘Japa’.
Berasal dari bahasa Yoruba, Japa berarti “melarikan diri” atau “melarikan diri.” Di Nigeria masa kini, kata ini telah berkembang menjadi lebih dari sekedar kata. Hal ini telah menjadi fenomena nasional, sebuah strategi untuk bertahan hidup, dan bagi banyak generasi muda, sebuah tujuan hidup yang berharga. Kanada, Inggris, Amerika Serikat, Australia, Jerman, dan semakin banyak negara-negara Teluk kini menjadi tujuan wisata dan bukan hanya sekedar untuk berpetualang namun juga untuk harapan.
Gerakan Japa telah memicu perdebatan sengit. Beberapa orang melihatnya sebagai sebuah brain drain berbahaya yang menyebabkan Nigeria kehilangan talenta terbaiknya. Ada pula yang berpendapat bahwa hal ini hanyalah konsekuensi alami dari suatu negara yang secara konsisten gagal memberikan penghargaan atas kerja keras, pendidikan, dan bakat. Kebenarannya terletak di antara keduanya.
Generasi yang Mencari Harapan
Lebih mudah untuk menyimpulkan bahwa pemuda Nigeria bermigrasi (Japa) karena mereka tidak menyukai negaranya. Kebanyakan dari mereka meninggalkan dunia ini karena mereka mencintai kehidupan dan percaya bahwa mereka berhak mendapatkan kesempatan yang lebih baik dibandingkan pengalaman mereka saat ini.
Banyak faktor termasuk pengangguran kaum muda, inflasi yang tinggi, depresiasi mata uang, ketidakamanan, layanan kesehatan yang tidak memadai, listrik yang tidak stabil, kurangnya infrastruktur, kemajuan karir yang terbatas telah sangat melemahkan kepercayaan terhadap masa depan Nigeria. Lulusan menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mencari pekerjaan, sementara banyak pekerja profesional berjuang dengan gaji yang tidak lagi sesuai dengan kenaikan biaya hidup.
Oleh karena itu, migrasi bukan berarti meninggalkan Nigeria, melainkan mengejar martabat.
Pada tahun 2024, survei nasional yang dilakukan LEAP Afrika mengungkapkan bahwa 71% generasi muda Nigeria mempertimbangkan untuk pindah ke luar negeri, sementara 85% juga mengatakan jika ada peluang, mereka juga akan bermigrasi. Studi ini juga menunjukkan bahwa jalur migrasi yang paling disukai adalah visa pendidikan dan visa pekerja terampil. Alasan ekonomi seperti peningkatan kesempatan kerja, stabilitas keuangan dan standar hidup yang lebih baik diidentifikasi sebagai motivasi yang paling kuat.
Statistik ini mengungkap kenyataan yang menyedihkan: bagi jutaan generasi muda Nigeria, migrasi telah menjadi sebuah kebutuhan; tidak lagi menjadi pilihan.
Lebih dari Ekonomi: Mengapa Generasi Muda Nigeria Ingin Keluar
Sindrom Japa tidak bisa dijelaskan hanya dengan kesulitan ekonomi saja. Beberapa faktor yang juga mendorong migrasi adalah banyaknya profesional muda yang mengungkapkan rasa frustrasinya terhadap institusi yang rusak. Para dokter mengeluhkan fasilitas medis yang tidak memadai meskipun mereka telah menjalani pelatihan yang ketat selama bertahun-tahun. Para dosen berjuang menghadapi universitas yang kekurangan dana dan aksi industrial yang berulang. Para profesional teknologi mencari lingkungan di mana inovasi mendapat dukungan yang memadai. Para wirausahawan berjuang melawan kebijakan pemerintah yang tidak konsisten, perpajakan yang berganda, infrastruktur yang buruk, dan pasokan listrik yang tidak dapat diandalkan.
Masalah keamanan juga memainkan peran penting. Penculikan yang berulang, bandit, terorisme, konflik komunal, dan kejahatan dengan kekerasan telah menciptakan ketidakpastian di banyak wilayah di negara ini. Bagi keluarga muda, membesarkan anak di lingkungan yang lebih aman menjadi pertimbangan yang semakin penting.
Sekali lagi ada juga masalah tata kelola. Karena korupsi yang dianggap oleh banyak generasi muda, institusi yang lemah, dan implementasi kebijakan yang buruk menjadi hambatan bagi kemajuan pribadi dan nasional. Hal ini membuat prestasi sering kali dibayangi oleh koneksi politik yang membuat generasi muda yang ambisius enggan menginvestasikan masa depan mereka di negara ini.
Konsekuensinya, Japa bukanlah keputusan yang emosional. Ini telah menjadi respons rasional terhadap kegagalan struktural.
Era Digital Membuat Japa Lebih Menarik
Berbeda dengan generasi sebelumnya, generasi muda masa kini tak henti-hentinya menyaksikan kehidupan di luar negeri melalui media sosial.
Instagram, Facebook, TikTok, YouTube, LinkedIn, dan X (sebelumnya Twitter) telah menciptakan jendela virtual bagi masyarakat di mana layanan kesehatan yang fungsional, transportasi yang efisien, listrik yang stabil, dan tata kelola yang dapat diprediksi tampak normal. Warga Nigeria yang berada di diaspora secara teratur memposting prestasi, rumah baru, keberhasilan akademis, pencapaian karier, dan gaya hidup yang lebih baik.
Dengan media sosial yang seringkali hanya menyoroti aspek-aspek positif dari migrasi, hal ini secara signifikan membentuk persepsi masyarakat.
Laporan LEAP Africa juga mengatakan bahwa informasi yang dikonsumsi di media sosial dan harapan dari teman dan keluarga secara substansial mempengaruhi keputusan migrasi di kalangan generasi muda Nigeria.
Secara sosial orang-orang sekarang merayakan migrasi. Hal ini membuat para keluarga dengan bangga mengumumkan ketika anak-anak mereka pindah ke luar negeri, sementara mereka yang masih memproses permohonan visa mendapat dorongan dari teman sebaya. Visa kini dianggap sebagai sebuah pencapaian di banyak kalangan, sebanding dengan mendapatkan pekerjaan yang menguntungkan.
Biaya yang Ditanggung Nigeria
Meskipun setiap individu mengejar peluang yang lebih baik, konsekuensi yang sangat besar akan menimpa Nigeria. Mungkin kekhawatiran terbesar adalah semakin hilangnya tenaga profesional yang terampil.
Nigeria terus mengalami kerugian: Dokter dan perawat, dosen, insinyur, peneliti, pengembang perangkat lunak, dan profesional berketerampilan tinggi lainnya terus keluar dari negara tersebut.
Migrasi talenta ini melemahkan institusi yang sudah mengalami kesulitan.
Penelitian migrasi baru-baru ini mencatat bahwa meskipun pengiriman uang dari diaspora memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pendapatan rumah tangga, hilangnya pekerja berketerampilan tinggi secara terus-menerus melemahkan inovasi, kapasitas penelitian, pengembangan kelembagaan, dan pertumbuhan ekonomi.
Nigeria menginvestasikan sumber daya publik dalam mendidik para profesional yang pada akhirnya memperkuat perekonomian negara lain.
Tentu saja, Japa Tidak Sepenuhnya Negatif
Tidaklah adil jika menggambarkan migrasi hanya sebagai sebuah tragedi nasional. Diaspora Nigeria memberikan kontribusi yang sangat besar bagi keluarga dan perekonomian nasional.
Menurut data migrasi baru-baru ini, pengiriman uang dari warga Nigeria ke luar negeri menyumbang lebih dari 7,8% Produk Domestik Bruto (PDB) Nigeria pada tahun 2024, menjadikannya salah satu aliran masuk keuangan eksternal terpenting di negara tersebut.
Pengiriman uang ini membiayai pendidikan anak-anak, perawatan kesehatan, perumahan, mendukung bisnis keluarga dan investasi lokal
Banyak warga diaspora Nigeria juga mentransfer keterampilan yang berharga, menjalin kemitraan bisnis internasional, menjadi mentor bagi wirausahawan, dan mendukung inisiatif filantropi.
Memang benar, beberapa negara, termasuk India, Tiongkok, dan Irlandia, telah berhasil mengubah migrasi menjadi pembangunan nasional melalui kebijakan keterlibatan diaspora yang efektif.
Oleh karena itu, tantangannya bukanlah migrasi itu sendiri, melainkan migrasi yang salah urus. Haruskah generasi muda Nigeria berhenti bermimpi untuk pergi?
Beberapa kritikus berpendapat bahwa generasi muda harus tetap tinggal di rumah dan berpikir untuk membangun negara dibandingkan mencari peluang di tempat lain. Argumen ini terdengar patriotik namun mengabaikan realitas penting.
Dan fakta bahwa patriotisme tidak dapat menggantikan rumah sakit yang berfungsi; Ia tidak dapat menggantikan listrik yang stabil; Hal ini tidak dapat mengkompensasi pengangguran atau ketidakamanan.
Tidak ada warga negara yang boleh dikutuk karena mencari keamanan, pertumbuhan profesional, atau stabilitas keuangan.
Secara global, migrasi diakui sebagai hak asasi manusia yang sah. Sepanjang sejarah, masyarakat bergerak untuk mencari peluang yang lebih baik, dan masyarakat Nigeria tidak boleh dinilai berbeda.
Namun, migrasi idealnya didasarkan pada pilihan, bukan pelarian. Ketika hampir setiap generasi muda yang berpendidikan, bahkan tidak berpendidikan, percaya bahwa kesuksesan bergantung pada meninggalkan negara ini, masyarakat harus menghadapi permasalahan lebih dalam yang menyebabkan persepsi tersebut.
Apa yang Diungkapkan Data
Indikator-indikator sosio-ekonomi yang lebih luas memberikan gambaran serius mengenai lingkungan hidup di mana banyak generasi muda Nigeria mengambil keputusan-keputusan yang mengubah hidup mereka. Menurut data terbaru Bank Dunia, populasi Nigeria mencapai sekitar 237,5 juta orang pada tahun 2025, dengan tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 2,1%, menjadikannya salah satu populasi dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Namun, 41,8% penduduk Nigeria hidup di bawah garis kemiskinan internasional sebesar $3,00 per hari (PPP 2021) pada tahun 2022, sementara angka harapan hidup saat lahir hanya mencapai 55 tahun pada tahun 2024, yang mencerminkan tantangan yang terus-menerus dalam layanan kesehatan dan kondisi kehidupan.
Secara ekonomi, Nigeria mencatat Produk Domestik Bruto (PDB) sekitar US$290,79 miliar pada tahun 2025, dengan PDB per kapita hanya US$1.224,30. Meskipun perekonomian tumbuh sebesar 4,0% pada tahun 2025, banyak masyarakat yang masih merasakan dampak dari tingginya biaya hidup, karena inflasi konsumen tetap tinggi sebesar 23,0%. Sementara itu, pengiriman uang pribadi dari warga Nigeria ke luar negeri menyumbang 7,8% PDB pada tahun 2025, hal ini menunjukkan pentingnya peran diaspora dalam mendukung keluarga dan perekonomian nasional.
Indikator infrastruktur dan kualitas hidup semakin menyoroti tantangan-tantangan yang ada. Pada tahun 2024, hanya 62,5% penduduk Nigeria yang memiliki akses terhadap listrik, sementara hanya 32% penduduknya yang memiliki akses terhadap layanan sanitasi yang dikelola dengan aman. Penetrasi internet mencapai 41%, menunjukkan bahwa meskipun konektivitas digital semakin berkembang, mayoritas masyarakat Nigeria masih belum memiliki akses internet yang dapat diandalkan.
Apa yang Harus Diubah?
Mengurangi gelombang Japa membutuhkan lebih dari sekedar seruan patriotisme. Pemerintah harus menciptakan lingkungan di mana talenta dapat berkembang dan dihargai.
Reformasi ekonomi harus fokus pada perluasan kualitas kesempatan kerja, menstabilkan inflasi, mendukung kewirausahaan, memperkuat naira, dan mendorong investasi.
Pendidikan membutuhkan peningkatan pendanaan, fasilitas modern, dan peningkatan peluang penelitian. Perguruan tinggi harus menjadi pusat inovasi yang mampu bersaing secara global.
Para profesional layanan kesehatan berhak mendapatkan remunerasi yang kompetitif, kondisi kerja yang memadai, dan peluang untuk kemajuan karir.
Keamanan tetap sama pentingnya. Tidak ada masyarakat yang dapat mempertahankan pikiran cemerlang mereka ketika warga negara terus-menerus mengkhawatirkan keselamatan mereka.
Yang tidak kalah pentingnya adalah membangun kembali kepercayaan terhadap pemerintahan. Institusi yang transparan, rekrutmen berdasarkan prestasi, akuntabilitas, dan kebijakan publik yang konsisten dapat secara bertahap memulihkan kepercayaan diri generasi muda Nigeria.
Para ahli semakin berpendapat bahwa Nigeria harus beralih dari kondisi yang mengalami brain drain menjadi peningkatan sirkulasi otak, mendorong warga Nigeria yang terampil di luar negeri untuk berinvestasi, berkolaborasi, mengajar, melakukan penelitian, atau akhirnya kembali dalam kondisi yang menarik.
Tanggung Jawab Bersama
Tanggung jawab tersebut tidak hanya berada pada pemerintah tetapi juga swasta. Organisasi swasta harus berinvestasi pada talenta muda melalui gaji yang kompetitif, magang, dan pusat inovasi.
Perguruan tinggi harus mempersiapkan lulusannya dengan keterampilan praktis dan kewirausahaan.
Diaspora harus secara aktif membimbing generasi muda Nigeria dan menciptakan peluang investasi yang menghasilkan lapangan kerja di negara asal mereka.
Generasi muda Nigeria sendiri juga harus menyadari bahwa pindah ke luar negeri bukanlah jaminan kesuksesan secara otomatis. Banyak migran menghadapi penyesuaian budaya, diskriminasi, kesepian, tantangan perizinan, dan tekanan finansial sebelum akhirnya membangun diri. Beberapa dari mereka tidak berhasil sama sekali, dan berakhir lebih buruk daripada di Nigeria.
Japa adalah sebuah perjalanan, bukan keajaiban.
Sindrom Japa pada akhirnya bukanlah cerita tentang bandara atau pengajuan visa. Ini adalah kisah tentang harapan. Ketika harapan menurun, migrasi meningkat.
Meningkatnya keinginan generasi muda Nigeria untuk pindah ke luar negeri mencerminkan keprihatinan yang lebih mendalam terhadap tata kelola, peluang ekonomi, keamanan, dan kualitas hidup. Menyalahkan generasi muda karena mencari masa depan yang lebih baik adalah hal yang tidak tepat.
Tantangan sebenarnya adalah menciptakan Nigeria yang menjadikan menetap sama menariknya dengan meninggalkan negara. Jika negara dapat membangun institusi yang memberikan penghargaan terhadap kompetensi, melindungi warga negara, menyediakan pendidikan dan layanan kesehatan yang berkualitas, dan menghasilkan lapangan kerja yang berarti, tentu saja perbincangan akan berangsur-angsur berubah.
Generasi muda Nigeria belum tentu ingin meninggalkan tanah airnya. Kebanyakan dari mereka hanya menginginkan sebuah negara yang memberi mereka cukup alasan untuk percaya bahwa masa depan mereka masih bisa dibangun di dalam wilayah negara tersebut.
Oleh: Issa Hamed Alhaji
JamzNG Latest News, Gist, Entertainment in Nigeria